Selasa, 24 April 2012

METODE KONTRASEPSI SEDERHANA DENGAN ALAT

A.    KONDOM
a.       Definisi
Adalah suatu selubung atau sarung karet yang terbuat dari berbagai bahan di antaranya lateks ( karet ), plastic ( vinil ) atau bahan alami ( produksi  hewani ) yang di pasang pada penis ( kondom pria ) atau vagina ( kondom wanita ) pada saat berhubungan seksual.

b.      Macam-macam kondom
1)      Kulit
-          Dibuat dari membran usus biri-biri ( caecum )
-          Tidak meregang dan mengkerut
-          Menjalarkan panas tubuh, sehingga di anggap tidak mengurangi sensitivitas selama senggama.
-          Lebih mahal
-          Jumlahnya kurang dari 1% dari semua jenis kondom
2)      Lateks
-          Paling banyak di pakai
-          Elastis
-          Murah
3)      Plastik
-          Sangat tipis ( 0,025-0,035 )
-          Juga menghantarkan panas tubuh
-          Lebih mahal dari kondom lateks

c.       Cara Kerja
Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma sehingga sperma tersebut  tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan. Mencegah penularan mikroorganisme ( IMS termasuk HBV dan HIV/AIDS ) dari satu pasangan kepada pasangan yang lain ( khusus kondom yang terbuat dari lateks dan vinil )
d.      Efektifitas
Kondom cukup efektif bila di pakai secara benar pada setiap kali berubungan seksual. Pada beberapa pasangan, pemakaian kondom tidak efektif karena tidak di pakai secara konsisten. Secara ilmiah di dapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan  pertahun
                                                    
e.       Keuntungan
1.      Memberi  perlindungan terhadap PMS
2.      Tidak mengganggu kesehatan klien
3.      Murah dan dapat di beli secara umum
4.      Tidak perlu pemeriksaan medis
5.      Tidak mengganggu produksi ASI
6.      Mencegah ejakulasi  dini
7.      Membantu mencegah terjadinya kanker serviks

f.       Kerugian
1.      Angka kegagalan relative tinggi
2.      Perlu menghentikan sementara aktifitas &  spontanitas  hubungan seks
3.      Perlu di pakai secara konsisten
4.      Harus selalu bersedia setiap kali hubungan seks
5.      Masalah pembuangan kondom bekas

g.      Pemakaian kondom
1.      Kondom Pria
a)      Pakai kondom saat penis tegang ( ereksi ) dan sebelum di masukan
b)      Buka kemasannya, jangan pakai kuku karena kondom bisa rusak
c)      Tempatkan gulungan kondom di kepala penis
d)     Tekan ujungnya untuk mengeluarkan udara dan dorong kebawah menyarungi seluruh penis
e)      Lumuri pelicin pada kondom dan vagina atau lumuri pelicin pada anus/ dubur
f)       Gunakan untuk hubungan seks. Ganti yang baru jika kondom rusak
g)      Setelah sperma keluar ( ejakulasi ) tarik keluar penis yang masih ereksi dan tahan pangkalnya agar sperma tidak lumpuh
h)      Lepaskan dari penis dan ikat pangkalnya. Buanglah di tempat sampah
2.      Kondom wanita
a)      Lipat ujung kondom yang berupa ring atau spon dan masukan ke dalam liang vagina
b)      Pegang ring luar kondom dan tekan bagian dalam kondom sampai pangkal jari untuk memantapkan posisi kondom dan kenyamanan pemakaian
c)      Tuntun penis ke dalam lubang kondom untuk melakukan hubungan seks
d)     Setelah sperma keluar, lepaskan penis dari dalam vagina
e)      Putar bagian pangkal kondom 3 kali supaya saat kondom di tarik keluar dari vagina , sperma tidak tumpah
f)       Bungkuslah kondom bekas dengan tisu dan buang ketempat sampah

h.      Petunjuk yang di sampaikan pada pasangan tentang penggunaan metode kondom
1.      Untuk menghindari terjadinya kehamilan maka dapat di gunakan setiap berhubungan
2.      Pemasangan kondom  di lakukan sebelum penis berhubungan dengan genetalia eksternal  wanita atau sebelum di masukan kedalam vagina
3.      Setelah kondom di pasang pada penis, sisakan sedikit ruang bebas pada ujung kondom
4.      Simpan kondom di tempat yang kering dan sejuk
5.      Jangan memakai vaselin sebagai pelumas karena dapat merusak karet
6.      Periksa kondom setelah senggama selesai, untuk melihat adanya kerusakan pada kondom atau apakah kondom masih utuh atau tidak
7.      Jangan menggunakan kondom untuk kedua kalinya

B.     SPERMISIDE  
a.       Definisi
Zat-zat kimia yangn kerjanya melumpuhkan spermatozoa di dalam vagina sebelum spermatozoa bergerak ke dalam traktus genetalia interna .

b.      Cara Kerja
Menyebabkan selaput sel sperma pecah , yang akan mengurangi  gerak sperma ( keaktifan dan mobilitas ) serta kemampuannya untuk membuahi sel  telur
c.       Komponen spermisida
1.      Zat pembawa atau pengangkut yang inert
a)      Jelly
1)      Di buat dari bahan yang larut dalam air
2)      Mencair pada suhu badan dan dengan cepat menyebar  ke dalam vagina
3)      Daya perlindungan di capai segera setelah pemberian
b)      Cream
1)      Di buat dari lemak yang tidak larut dalam air
2)      Setelah di masukan dalam vagina krim tetap berada ditempatnya dan tidak menyebar
3)      Daya perlindungan dicapai setelah pemberian
c)      Foam atau busa
Akan mengisi vagina dengan gelembung-gelembung busa yang mengandung spermisidnya
d)     Tablet busa
1)      Bentuk plastic menyerupai kertas ukuran 2 kali 2 inci mengandung 75mg nonoxynol  -9 di lipat sekali lalu dimasukan dalam vagina
2)      Dengan adanya secret vagina, tablet vagina akan menghasilkan CO2 yang selanjutnya akan menyebarkan spermisid
3)      Perlu waktu 10 menit sebelum boleh  bersenggama
4)      Suppositoria yang akan meleleh
5)      Dapat berbentuk yang larut dalam air atau bahan dasar lilin yang tidak larut dalam air.

2.      Zat spermisid yang aktif
a)      Surfaktan
1)      Surface actings agend = zat kimia yang bekerja pada permukaan sel
2)      Menempel pada spermatozoa lalu menghambat pengambilan oksigen da fructolysis
3)      Aksi primernya memecah dinding sel spermatozoa
b)      Bakterisida
1)      Bekerja dengan menggabungkan diri dengan gugus sulfur dan hydrogen didalam spermatozoa, sehingga mengganggu metabolism sel spermatozoa
2)      Derajat keasaman yang tinggi
3)      Contohnya : asam laktat, asam borat ,asam citrun dll

d.      Efektifitas
Keberhasilannya sedang ( 6-26 kehamilan per 100 wanita selama tahun pertama pemakaian )

e.       Keuntungan
1.      Aman
2.      Sebagai kontrasepsi pengganti untuk wanita dengan kontra indikasi pemakaian pil oral , iud dll
3.      Efek pelumasan pada wanita yang mendekati menopause di samping efek  proteksi terhadap kemungkinan hamil
4.      Tidak membutuhkan supervise medic

f.       Kerugian / kekurangan
1.      Angka kegagalan relative tinggi
2.      Harus digunakan  sebelum senggama
3.      Ada wanita yang segan untuk melakukanya karena harus diletakan dalam-dalam atau tunggi dalam vagina
4.      Harus diberikan berulang kali untuk senggama yang berturut-turut
5.      Dapat menimbulkan iritasi atau rasa panas pada beberapa wanita

g.      Cara penggunaan spermisid yang benar
1.      Letakan spermisid setinggi atau sedalam mungkin didalam vagina sehingga akan menutupi serviks
2.      Tunggu waktu yang ditentukan atau di perlukan sebelum mulai senggama
3.      Gunakan spermisid tambahan setiap kali mengulangi senggama pada saat yang sama
4.      Jangan melakukan pembilasan vagina paling sedikit 6-8 jam setelah senggama selesai
5.      Instruksi Umum Penggunaan Aerosol bagi Klien
a)      Guncang botolnya 20-30 kali sebelum menggunakannya
b)      Simpan botolnya dalam posisi tegak dan letakan aplikatornya di atas katup. Tekan aplikator ke samping agar supaya terus busa
c)      Sementara anda menggeletak, masukkan aplikator kedalam vagina hingga ujungnya berada di atau dekat dengan cervik. Tekan plunyernya dan keluarkan busanya. Tidak perlu menunggu agar busa  bisa bekerja
d)     Aplikator busa hendakanya di cuci dengan sabun dan air hangat, dibilas dan dikeringkan. Benda tersebut  bisa di bongkar untuk dibersihkan. Namun jangan pakai aplikator tersebut bersama orang lain
e)      Simpanlah pasokan  busa tambahan, terutama bila anda tidak bisa melihat apakah  botolnya berisi atau kosong
6.      Instruksi umum Penggunaan tablet Vaginal, Supositoria
a)      Keluarkan tablet vaginal, suppositoria atau selaput tipis dari kemasannya
b)      Sementara nada berbaring, masukkan tablet vaginal, suppositorian atau selaput tipis kedalam vagina ( jika aplikator tersedia, masukan benda tersebut  kedalam  vagina hingga ujungnya berada di atau di dekat serviks)
c)      Tunggulah 10B15 menit sebelum anda melakukan hubungan seks
d)     Aplikator  hendaknya di cuci dengan sabun dan air hangat, di bilas lalu dikeringkan. Dapat pula di bongkar untuk pembersihan yang lebih mudah. Jangan pakai bersama dengan orang lain
e)      Simpanlah pasokan tambahan tablets, suppositoria dan selaput
f)       Catatan : Beberapa pembusaan tablet vagina mungkin dapat menyebabkan sensasi hangat di dalm vagina. Hal ini adalah normal.
7.      Instruksi Umum Penggunaan Krim bagi Klien
a)      Untuk memasukan krim kontraseptif, isilah aplikator hingga penuh. Masukan aplikator kedalam vagina hingga ujungnya berda di atau dekat dengan serviks. Dorong pendorong dan lepas krimnya. Tidak perlu menunggu krim untuk bisa bekerja
b)      Aplikator hendaknya  di cuci dengan sabun dan air hangat, di bilas dan di keringkan . bisa juga di bongkar agar mudah di bersihkan. Jangan pakai bersama dengan orang lain.
c)      Simpan pasokan tambahan krim agar selalu tersedia, terutama bila anda tidak bisa melihat apakah botolnya berisi atau kosong

h.      Keterbatasan
1.      Keampuhannya sebagai kontraseptif bergantung pada keikhlasan untuk mengikuti instruksi
2.      Begantung pada pemakai ( memerlukan motivasi terus menerus dan penggunaan pada setiap kali berhubungan seks )
3.      Pemakai harus menunggu 10 sampai dengan 15 menit setelah memasukannya sebelum boleh melakukan hubungan seks ( tablet busa vaginal, suppositoria dan selaput tipis )
4.      Setiap pemakian adalah efektif untuk selama 1 sampai 2 jam saja
5.      Pasokan harus tersedia sebelum hubungan seks di mulai
6.      Pasokan ulang harus selalu tersedia

i.        Indikasi
1.      Wanita yang lebih suka tidak menggunakan atau tidak boleh menggunakan metode hormonal ( mis : perokok di atas usia 35)
2.      Wanita yang lebih suka tidak atau tidak boleh menggunakan IUD
3.      Wanita menyusui dan memerlukan kontrasepsi
4.      Wanita yang ingin perlindungan terhadap PMS dan yang pasangannya tidak mau memakai kondom
5.      Pasangan yang memerlukan metode sementara  sambil menunggu metoda lainnya
6.      Pasangan yang memerlukan metoda pendukung
7.      Pasangan yang jarang melakukan hubungan seks

j.         Efek samping dan Penatalaksanaanya
1.      Iritasi vaginal atau iritasi penis dan ketidaknyamanan :
Jika di sebabkan oleh spermisida, beralihlah ke spermisida lainnya dengan komposisi bahan kimia yang berbeda atau bantulah klien memilih metode lain
2.      Perasaan panas didalam vagina terasa menjengkelkan:   
Yakinkan bahwa sensasi hangat adalah normal.Kalau masih was-was,beralih ke spermisida lain dengan komposisi bahan kimia berbeda atau bantu klien memilih metoda lain.
3.      Tablet busa vaginal tidak meleleh:
Pilih jenis spermisida lain dengan komposisi bahan kimia berbeda atau bantu klien memilih metoda lain.

C.    DIAFRAGMA
a.       Definisi
Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung,terbuat dari lateks (karet) yang dimasukkan ke dalam vagina sebelum melakukan hubungan seksual dan menutupi serviks.

b.      Jenis
1.      Flat spring (lembar logam gepeng)
2.      Coil spring (kawat lengkung)
3.      Arching spring (pegas logam kombinasi)      
                                               
c.       Cara kerja
Menahan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi bagian atas  (uterus dan tuba falopii) dan sebagai alat tempat spermisida.
                                                                                                              
d.      Efektivitas
Efektivitas sedang (bila digunakan dengan spermisida angka kegagalan 6-18 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama penggunaan).

e.       Manfaat
1.      Manfaat kontraseptif
a.       Segera efektif
b.      Tidak berpengaruh pada pemberian ASI
c.       Tidak mengganggu hubungan seksual (mungkin dimasukkan lebih dari 6 jam sebelumnya)
d.      Tidak ada resiko yang berkaitan dengan metoda
e.       Tidak ada efek samping yang sistematik
2.      Manfaat non kontraseptif
a.       Beberapa diantaranya melindungi dari PMS (misalnya:HBV ,HIV/AIDS) terutama bila digunakan dengan spermisida
b.      Menahan darah menstruasi bila digunakan selama menstruasi

f.       Kerugian
1.      Memerlukan tingkat motivasi yang tinggi dari pemakai
2.      Wanita perlu memegang/memanipulasi genetalianya sendiri
3.      Untuk pemakaian awal, perlu instruksi dan cara pemasangan oleh tenaga klinik yang terlatih
4.      Menjadi mahal bila sering dipakai, diperlukan untuk biaya spermisidnya.
5.      Insersi relative sukar
6.      Pada kasus tertentu, dapat terasa oleh suami saat senggama
7.      Beberapa wanita mengeluh perihal “kebasahan/becek” yang disebabkan oleh spermisidnya.

g.      Keterbatasan
1.      Tergantung-pengguna (membutuhkan motivasi terus menerus dan digunakan setiap melakukan hubungan seksual)
2.      Pemeriksaan pelvic oleh tenaga pelayan yang terlatih (mungkin bukan dokter) dibutuhkan untuk pemasangan kembali postpartum
3.      Berkaitan dengan infeksi saluran kencing pada beberapa pengguna
4.      Harus tetap berada ditempatnya selama 6 jam setelah hubungan seksual
5.      Suplai harus siap sebelum hubungan seksual terjadi
6.      Suplai ulang harus dilakukan (spermisida dibutuhkan pada setiap penggunaan)

h.      Indikasi
Wanita yang :
1.      Memilih untuk tidak menggunakan metode hormonal atau yang memang tidak boleh menggunakan (misalnya:para perokok yang usianya di atas 35 tahun)
2.      Lebih memilih untuk tidak menggunakan atau memeng tidak boleh menggunakan IUD.
3.      Yang sedang menyusui dan membutuhkan alat kontrasepsi
4.      Yang menginginkan perlindungan dari PMS dan yang pasangannya tidak mau menggunakan kondom
Pasangan yang :
1.      Membutuhkan metode temporer sambil menunggu metode lainnya
2.      Membutuhkan metode pendukung
3.      Tidak  melakukan hubungan seksual
4.      Salah satu pasangannya mempunyai pasangan seksual lebih dari satu ( yang beresiko tinggi untuk mengidap PMS ). Meskipun mengunakan metode lain.

i.        Hal-hal yang membutuhakan perhatian
Diagfragma tidak direkomendasiakn kecuali jika metode lain tidak ada atau  tidak dapat diterima jika seorang wanita mempunyai:
1)      Riwayat Toxic Shock Syndrome (TSS)
2)      Alergi terhadap karet atau spermisida
3)      Infeksi saluran kencing atau urinary  Tract Infection (UTI)
4)      Stenosis vaginal
5)      Kelainan genital

i.    Konseling Tambahan di perlukan untuk
1.      Wanita yang karena umurnya ,paritasnya atau masalah kesehatannya mebuat kehamilannya beresiko tinggi
2.      wanita dengan cacat fisik atau yang merasa tidak senang untuk merasa tidak senang untuk menyentuh bagian genitalnya.
3.      Wanita yang tidak menginginkan ketidaknyaman apapun
4.      Pasangan yang menginkan metode kontrasepsi yang efektivitasnaya tinggi
5.      Pasanagn yang menginginkan suatu metode yang tidak ada kaitannya dengan hubungan seksual .
6.      Pasangan yang tidak ingin mengungkapannya dengan benar pada setiap hubungan seksual yang dilakukannya.
7.      Pasangan yang tidak mempunyai sabun dan air yang siap tersedia.

j.    Efek samping dan Penatalaksanaannya
1)      Torik shock syndrome (TSS)
a.       Periksa tanda / gejala TSS ( misalnya : demam , bintik – bintik merah pada kulit ,mual ,muntah ,diare,konjungtivitis, lemah, tekanan darah berkurang dan syok.
b.      Jika didapati hal seperti diatas , rujuk klien  kepusat kesehatan yang menyediakan cairan infuse dan antibiotic.
c.       Berikan rehidrasi secara oral bila diperlukan dan analgetik non-narkotik ( NSAID atau aspirin) jika demamnya tinggi (>38°C)
2)      Infeksi saluran kencing (UTI)
a.       Tangan dengan antibiotik yang tepat.
b.      Jika klien sering mengalami UTI maka diagfragma tampaknya menjadi alat kontrasepsi yang menjadi pilihan pertama , beri nasihat untuk berkemih ( buang air) segera setelah berhubungan seksual .
c.       Tawarkan kepada klien antibiotik profilaksis postcoital ( dosis – tunggal ). Selain itu,bantu klien untuk memilih metode lainnya.
3)      Reaksi alergi akibat diafragma atau spermisida:
Jika alergi,bantu klien untuk memilih menggunakan metode lain .
4)      Nyeri akibat penekanan pada kandung kemih atau rektum. Nilai kecocokan diafragma. Jika alat baru itu terlalu besar,ganti dengan alat yang lebih kecil.lakukan tindak lanjut untuk memastikan bahwa permasalahan telah di pecahkan.reaksi alergi, meskipun tidak biasa, bisa membuat tidak nyaman dan mungkin berbahaya.
5)      Cairan kotor dan berbau dari vagina jika di biarkan di dalam vagina lebih dari 24 jam:
a)      Periksa ada tidaknya PMS atau benda asing.jika tidak ada, beri nasihat kepada klien untuk melepas diafragmanya jika sudah merasa nyaman segera setelah berhubu8ngan seksual, tetapi tidak kurang dari 6jam setelah hubungan terakhir.
b)      Jika gejala berulang, beri konsultasi mengenai kebersihan vagina.
6)      Luka pada vagina yang disebabkan oleh tepi diafragma yang mendorong dinding vagina :
Untuk sementara waktu hentikan penggunaan dan gunakan metode pendukung.jika lukanya sudah sembuh, periksa kecocokan diafragma (mungkin terlalu besar)

k.      Instruksi bagi pengguna diafragma
1.      Gunakan diafragma setiap kali anda berhubungan seksual.
2.      Pertama, berkemih dan cucilah tangan anda
3.      Memilih ukuran diafragma
a)      Jari telunjuk dan jari tengah di masukkan ke dalam vagina sampai ujung jari tengah menyentuh dinding, posterior vagina.ibu jari di gerakkan sampai titik pertemuan jari telunjuk dengan os pubis.
b)      Jarak antara jari tengah dan bagian depan ibu jari adalah diameter diafragma yang di perlukan.
4.      Periksa ada tidaknya lubang pada diafragma dengan cara menekan nkaretnya dan perlihatkan di bawah sinar lampu atau mengisinya dengan air.
5.      Ambil sedikit krim spermisida atau jelly dan masukkan ke cup diafragma.
Agar lebih mudah untuk memasukkannya, oleskan sedikit krim/jelly di bagian pinggir diafragma atau di pintu masuk vagina.tekan bagian pinggirnya satu sama lain agar menyatu.
6.      Posisi-posisi di bawah ini dapat di gunakan untuk memasukkan diafragma:
a.       Satu kaki dinaikkan ke atas kursi atau toilet
b.      Berbaring
c.       Berjongkok
7.      Buka bibir vagina lebar-lebar
8.      Masukkan diafragma dan krim/jelly di vagina dengan cara:
a)      Lingkaran diafragma dijepit/ditekan diantara ibu jari dan jari-jari tangan
b)      Diafragma ditekan dan di dorong sejauh mungkin ke dalam vagina
c)      Dengan jari telunjuk diperiksa bahwa letak diafragma tepat dibelakang os pubis dan menutupi serviks.
d)     Diafragma yang di pasang dengan benar terletak diantara bagian posterior os pubis dan forniks posterior vagina serta menutupi serviks.
e)      Untuk memeriksa bahwa diafragma terpasang dengan tepat, jari telunjuk meraba serviks melalui kubah diafragma.
9.      Masukkan jari tangan anda ke dalam vagina dan rabalah serviks (teraba seperti hidung anda) melalui karet untuk memastikan bahwa serviks tertutup.
10.  Diafragma dapat diletakkan di dalam vagina sampai dengan 6jam sebelum melakukan hubungan seksual.
a.       Jika hubungan seksual berlangsung lebih dari 6 jam, pemberian spermisida harus dilakukan kembali dan harus dimasukkan kedalam vagina.
b.      Krim atau jelly tambahan diperlukan untuk hubungan seksual yang dilakukan berulang-ulang.
c.       Biarkan diafragma didalam vagina sedikitnya 6 jam setelah hubungan seksual terjadi. Jangan dibiarkan lebih dari 24 jam setelah hubungan seksual.
d.      Penyemprotan vagina tidak dianjurkan. Jika dilakukan, harus ditunda selama 6 jam setelah hubungan seksual.
e.       Lepaskan diafragma dengan cara memasukkan jari dibelakangtepi dan tariklah. Jika perlu, tempatkan jari anda diantara diafragma daang pubis untuk melepas hisapannya sebelum menariknya keluar.
f.       Cucilah diafragma dengan sabun yang lembut dan air serta keringkan secara keseluruhan sebelum mengembalikannya ke tempatnya.

l.        Pertimbangan Kegawatdaruratan
Jika klien tidak mengharapkan untuk hamil, dan dia :
1)      Lupa menggunakan diafragma pada saat dia melakukan hubungan seksual.
2)      Dikhawatirkan menggunakan diafragma secara tidak benar.
3)      Melakukan hubungan seksual lebih dari 6 jam setelah memasukkan diafragma tetapi tidak memberikan spermisida ulang.
4)      Tidak membiarkan diagfragma berada dalam vagina selam 6 jam setelah berhubungan seksual.

D.    KAP SERVIKS
a.       Definisi
Yaitu suatu alat kontrasepsi yang hanya menutupi serviks saja.

b.      Jenis
1)      Prentif Cavity rem Serviks
2)      Dumas atau vault Cup.

c.       Cara kerja
Menahan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi bagian atas ( uterus dan falopii ) dengan cara menutup serviks.

d.      Efektifitas
Cukup baik, 8-20 per 100 wanita per tahun.

e.       Manfaat
1)      Efektif meskipun tanpa spermisid
2)      Tidak terasa oleh suami saat segsama
3)      Dapat dipakai wanita yang mengalami kelaianan anatomis/ fungsional dari vagina misalnya sistokel,rektokel,prolapsus uteri,tonus otot kurang baik.
4)      Tidak perlu pengukuran
5)      Jarang terlepas saat segsama

f.       Kerugian
Pemasangan dan pengeluarannya lebih sulit karena letak serviks yang jauh di dalam vagina.

g.      Keterbatasan
Pemasangan dan pengeluaran lebih sulit Karena letak serviks yang jauh di dalam vagina.

h.      Indikasi
Wanita yang :
1)      Memilih untuk tidak menggunakan metode hormonal atau yang memang tidak boleh menggunakannya ( misalnya: para perokok yang usianya di atas 35 tahun)
2)      Lebih memilih untuk tidak menggunakan atau memeng tidak boleh menggunakn IUD
3)      Yang sedang menyusui dan membutuhkan alat kontrasepsi

i.        Kontra indikasi
1)      Erosi atau laserasi serviks
2)      Kelainan bentuk serviks
3)      Riwayat infeksi saluran Kemih
4)      Infeksi dari serviks , adneksa atau neoplasma serviks
5)      Alergi terhadap karet
6)      Pap smear yang abnormal
7)      Post partum kurang dari 12 minggu
8)      Wanita yang tidak mampu untuk memasang dan mengeluarkan kap serviks dengan benar

j.        Efek samping dan komplikasi
Secret yang berbau
Infeksi saluran kemih

k.      Intruksi penggunaan
1)      Kurang lebih 1/3 – ½ bagian dari kap serviks diisi dengan spermisid
2)      Posisi tubuh wanita jongkok atau setengah tidur /duduk.
3)      Kap serviks dipegang dengan jari telunjuk dan ibi jari dengan kubah menghadap kebawah sambil memijit pinggir – alas kap serviks ( bila terbuat dari kayu /plastic lunak .
4)      Tangan yang lain membuka bibir kemaluan
5)      Kap serviks dimasuakn sepanjang dinding belakang vagina sampai mencapai serviks
6)      Dengan jari telunjuk , pinggir alas kap serviks ditekan sekeliling serviks sampai kubah servikal cap menutupi ostium uteri dan ujung serviks dapat teraba dibawah kubah.
7)      Biarkan kap serviks selama minimal 6 jam selama segsama selesai
8)      Untuk mengeluarkan kap serviks , jari telunjuk dikaitkan pada pinggir kap serviks , melepaskannya dari serviks lalu dikeluarkan.




ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR)
(Intra Uterine devices= IUD)
Penggolongan IUD :
1.      Un-Medikated Devices      = Inset devices
=  First Generation Devices
Misalnya    :
a.       Gtrafenberg ring
b.      Ota ring
c.       Marguiles coil
d.      lippes Loop ( di anggap sebagai IUD standar )
e.       Saf.T. Coil
2.      Medikal Devices   =  Bio –Active Devices
                        =  Second Generation Devices
a.       Mengandung logam
·         AKDR-CU generasi pertama ( first generation copper devices )
·         AKDR-CU generasi kedua  (second generation copper devices)
b.      Mengandung hormon : Progesterone atau Levonorgestrel
·         Progestasert = alza –T dengan daya kerja 1 tahun
·         LNG-20 : Mengandung levonorgestrel

Penggolongan lain dari IUD berdasarkan :
1.      Konfigurasi :
a.       Open & linear devices : lippes loop ,coper IUD
b.      Closed & ring – shaped devices : Zipper Ring , Ragab Ring
2.      Rigiditas
3.      Luas permukaan
4.      Macam bahan asal


Mekanisme kerja IUD
Mekanisme kerja yang pasti dari IUD belum diketahui
Ada beberapa mekanisme kerja IUD yang telah diajukan :
1.      Timbulnya reaksi radang lokal non spesifik didalam cavum uteri sehinnga implantasi sel telur yang telah di buahi terganngu.
2.      Gangguan / terlepasnya blastocyst yang telah berimplasi di dalam endometrium.
3.      Pergerakan ovum bertambah cepat didalam tuba fallopii.
4.      Produksi lokal prostaglandin yang meninggi , yang menyebabkan terhambatnya implantasi.
5.      Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri.
Dari uraian di atas , maka IUD tampaknya tidak:
1.      Mencegah ovulasi
2.      Menggangu corpus luteum
Efektifitas IUD :
1.      Efektifitas dari IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas ( continuation rate) yaitu berapa lama IUD tetap tinggal in utero tanpa :
a.       Ekspulsi spontan
b.      Terjadinya kehamilan
c.       Pengangkatan / pengeluaran karena alasan-alasan medis atau pribadi
2.      Efektifitas dari bermacam-macam IUD tergantung pada :
a.       IUD-nya
1)      Ukuran
2)      Bentuk
3)      Mengandung Cu atau Progesterone
b.      Akseptor
1)      Umur
2)      Paritas
3)      Frekuensi senggama
3.      Dari faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor yaitu umur dan paritas diketahui :
a.       Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan , ekspulasi dan pengangkatan /pengeluaran IUD
b.      Makin muda usia , terutama pada nulligravid , makin tinggi angka ekspulasi dan pengangkatan /pengeluaran IUD
Kontra Indikasi Insersi IUD
1.      Kontra indikasi absolute
2.      Kontra indikasi relative kuat
3.      Keadaan-keadaan lain yang dapat merupakan kontra indikasi untuk insersi IUD
Untuk sukses berhasilnya insersi IUD tergantung pada beberapa hal yaitu :
1.      Ukuran dan macam IUD beserta tabung inserter nya
2.      Waktu / saat insersi
3.      Tehnik insersi
4.      Penjelasan prosedurnya kepada calom akseptor
5.      Tehnik a dan anti sepsis
6.      Penempatan IUD setinggi mungkin di dalam uterus (fundus uteri) tanpa menembus / perforasi myometrium
Ukuran dan macam IUD
a.       Makin kecil IUD, makin mudah insersinya, makin tinggi ekspulsinya
b.      Makin besar IUD, makin sukar insersinya, makin rendah ekspulsinya
Tehnik Insersi
a.       Tehnik Push-out = mendorong : Lippes Loop
Bahaya perforasi lebih besar
b.      Tehnik Withdrawal = menarik : Cu IUD
c.       Tehnik Plunging = “mencelupkan” : Progestasert-T
Macam-macam IUD
1.      Un-Medicated IUD
Lippes Loop
1)      Lippes Loop A
2)      Lippes Loop B
3)      Lippes Loop C
4)      Lippes Loop D
2.      Medicated IUD
Copper IUD
Keuntungan Cu IUD
1.      Ekspulsi lebih jarang , baik pada insersi interval , post partum maupun post abortus
2.      Kehilangan darah haid lebih sedikit
3.      Dapat lebih di tolerir oleh wanita yang belum punya anak atau wanita dengan paritas rendah
4.      Ukuran tabung inserter lebih kecil

Kerugian Cu  IUD
1.      Perlu di ganti setelah pemakaian beberapa tahun
2.      Lebih mahal
Efek Samping dan komplikasi pada saaat Insersi IUD
1.      Rasa sakit/nyeri
2.      Muntah, keringat dingin dan syncope
3.      Perforasi Uterus

Efek Samping dan Komplikasi IUD di Kemudian Hari
1.      Rasa sakit dan pendarahan
a.       Merupakan alasan medis utama dari penghentian pemakaian IUD yaitu kira-kira 4-15% dalam 1 tahun. Tetapi menurut penelitian rasa sakit dan pendarahan akan berkurang dengan semakin lamanya pemakaian IUD.
b.      Pendarahan bertambah banyak dapat berbentuk:
·         Volume darah haid bertambah
·         Pendarahan yang berlangsung lebih lama
·         Pendarahan bercak / spotting diantara haid
2.      Embedding dan Displacement
IUD tertanam dalam –dalam di endometrium atau myometrium
Penaggulangan : IUD harus dikeluarkan
3.      Infeksi
Mekanisme Timbulnya infeksi
1.      Masuknya kuman yang biasanya hidup didalam traktus genitalia bagian bawah kedalam uterus pada saat insersi.
2.      Bertambahnya volume dan lamanya pendarahan haid
3.      Naiknya kuman melalui benang ekor IUD
Dugaan : ekor IUD yang multi filamen lebih memungkinkan naiknya kuman kedalam cavum uteri dibandingkan ekor IUD yang mono filamen. Sekarang, semua benang ekor IUD dibuat dari bahan yang mono filamen
Pencegahan Timbulnya Infeksi
1.      Skrining calon akseptor yang lebih baik
2.      Pemberian antibiotika profilaktik pada saat insersi
3.      A dan anti sepsis yang ketat
4.      IUD tanpa ekor
4.        Kehamilan Intra – Uterine
a.       Tanpa memandang usia dan parintas, angka kehamilan pada IUD inert makin menurun dengan lamanya pemakaian.
b.      Untuk IUD yang mengandung CU , penurunan angka kehamilan selama tahun kedua tidak terlalu menyolok .
c.       Resiko kehamilan dengan IUD in utero:
·         Abortus spontan /abortus febrilis terjadi pada 50-60 %  kehamilan , dengan lebih setengahnya terjadi pada trimester kedua.
·         Prematuris
·         Lahir mati
·         Berat badan lahir lebih rendah.
5.      Kehamilan Ektopik
a.       IUD tidak menimbulkan / menambah resiko kehamilan ektropik , tetapi karena IUD mengurangi kemungkinan implantasi intra uterine ,maka kehamilan yang terjadi akan lebih cenderung ke arah kehamilan ektopik.
b.      Dengan perkataan lain :
·         IUD tidak mencegah timbulnya kehamilan ektropik
·         Inflamasi/infeksi didalam tuba fallopii yang berhubungan dengan pemakain IUD ,mengganggu pergerakan dari sel telur yang telah di buahi ,sehingga kemungkinan kehamilan ektropik menjadi lebih besar.
6.      Ekspulsi
Gejala-gejala terjadinya ekspulsi IUD :
a)      Vaginal discharge yang abnormal
b)      Kram atau sakit daerah pelvis
c)      Pendarahan bercak/ spotting inter menstrual
d)     Pendarahan bercak/ spotting post coital
e)      Dispareunia
f)       Bertambah panjangnya benang ekor IUD
g)      Teraba batang IUD di ostium uteri / di dalam vagina
h)      Tidak teraba batang ekor
7.      Komplikasi lain

Keuntungan Non Kontraseptif dari IUD
1.      IUD yang mengandung hormon dapat mengurangi volume darah haid dan mengurangi dismenore
2.      Untuk mencegah adhesi dinding-dinding uterus oleh synechiae (Asherman’s syndrome)

Hal-hal yang harus Diketahui oleh Akseptor IUD :
1.      Cara memeriksa sendiri benang ekor IUD
Hal ini terutama berlaku dalam bulan-bulan pertama post insersi, kemudian periksa setiap haid atau bila ada dismenore.
2.      Efek samping yang sering timbul, misalnay pendarahan haid yang bertambah banyak/lama, rasa sakit/ kram
3.      Segera mencari pertolongan medis bila timbul gejala-gejala infeksi.
4.      Kehamilan + IUD in-utero mungkin saja suatu kehamilan ektopik
5.      Macam IUD yang dipakainya
6.      Saat untuk mengganti IUD-nya
7.      Pertimbangkan pemakaian metode kontrasepsi tambahan seperti kondom atau spermisid selama tiga bulan pertama insersi.
8.      Mengetahui tanda-tanda bahaya IUD :
a.       Terlambat haid (kehamilan), pendarahan abnormal
b.      Nyeri abdomen, dispareunia
c.       Vaginal discharge abnormal
d.      Merasa tidak sehat, demam, menggigil
e.       Benang ekor IUD menghilang, bertambah pendek atau bertambah panjang
9.      Bila mengalami keterlambatan haid, segera periksakan diri ke petugas medis
10.  Sebaiknya tunggu tiga bulan untuk hamil kembali setelah IUD dikeluarkan dan gunakan metode kontrasepsi lain selama waktu tersebut. Ini dapat mencegah kehamilan ektopik, yang lebih sering terjadi dalam bulan-bulan pertama setelah IUD dikeluarkan.
11.  Bila berobat karena alasan apa pun, selalu beritahu dokter bahwa akseptor menggunakan IUD.
12.  IUD tidak memberikan perlindungan terhadap tranmisi virus penyebab AIDS.

Penelitian IUD Baru
1.      Modified Cu-IUD dan Unmedicated IUD
a.       Dua versi modifikasi dari ML Cu-375 yaitu:
1)      ML Mark II
2)      ML Cu-375 SL
b.      Modified CuT-220C
c.       Uterine-occluding device
d.      Ombrelle-250
e.       Fincoid-350
f.       IUD berbentuk cavum uteri dan terbuat dari baja tahan karat (stainless steel). Sedang di teiliti di RRC
2.      IUD  yang Mengandung Hormon
LNG-20 (Sedang diteliti di Finlandia)
3.      Frameless IUD
Sedang diteliti 2 macam IUD tanpa kerangka yang kaku :
a.       CuFix-360
b.      Fundus Fixing Reversible Sterilization



DAFTAR PUSTAKA

Handayani, Sri. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Pustaka Rihama.
Hartanto, Hanafi. 2003. KB dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar